Minggu, 19 Mei 2019

Analisis Film Freedom Writers


                                  

                          
                                      I. IDENTITAS FILM
       
          
          a.     Judul Film                        : Freedom Writers
          b.      Sutradara                          :Richard Lagravenese 
          c.       Scenario Dibuat Oleh      : Richard Lagravenese
          d.      Produser                           : Danny Devito, Michael Shamberg , Stacey Sher.
          e.      Eksekutif Produser           : Hilary Swank , Tracey Durning , Nan Morales , Dan Levine
          f.        Direktur Fotografi            : Jim Denault
          g.       Designer Production       : Laurence  Bennet 
          h.      Editor                               : David Moritz
           i.         Music Dari                     : Mark Isham And Will.I.Am
           j.        Pemain Film                   :·         Hilary Swan Sebagai Erin Gruwell (Guru Bahasa Inggris Dasar)
                      ·         Patrick Dempsey Sebagai Scott Casey (Suami Erin)
                      ·         April Lee Hernรกndez Sebagai Eva Benitez
                      ·         Imelda Staunton Sebagai Margaret Campbell
                      ·         Scott Glenn Sebagai Steve Gruwell ( Ayah Erin)
                      ·         Jason Finn Sebagai Marcus
                      ·         Deance  Wyatt Sebagai Jamal Hill
                      ·         Jaclyn Ngan Sebagai Sindy
                      ·         Kristin Herrera Sebagai Gloria Munez
                      ·         Hunter Parrish Sebagai Ben Daniels
                      ·         Sergio Montalvo  Sebagai Alejandro  Santiago
                      ·         Gabriel Chavarria Sebagai Tito,Dll


II.       Synopsis film

Freedon Writers merupakan film yang diangkat dari sebuah buku yang berjudul “The Freedom Writers Diary“. Dimana buku ini ditulis oleh freedom writers dengan Erin Gruwell, buku ini berasal dari kisah nyata yang menceritakan perjuangan seorang guru yang berusaha membangkitkan semangat belajar dari para siswanya . 
Kisah ini bermula dari kedatangan seorang guru wanita yang  bernama Erin Gruwell yang memiliki sifat idealis serta tingkat kecerdasan tinggi ke Woodrow Wilson High School, diwilayah Long Beach, California,  Amerika Serikat. Yang mana pada saat itu isu rasisme di Amerika begitu hangat dibicarakan oleh masyarakat. Kedatangan Erin didasari pada niat tulusnya unuk mengajar pada muridnya yang menurut Erin membutuhkan perhatian khusus dalam penanganannya. Niat mulia Erin ini tidak serta merta di setujui oleh Ayahnya, karena Steve (Ayah Erin) berpendapat bahwa Erin memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, jika kemampuannya tersebut hanya digunakan sebagai seorang guru, maka kecerdasannya akan sia-sia. Namun Erin tetap yakin akan  pendiriannya untuk menjadi seorang guru dan niat baiknya itu didukung oleh suaminya yaitu Scott.
Di Woodrow Wilson High School, Erin bertugas sebagai guru bahasa Inggris dasar diruang 203. Diruang ini  berisi anak-anak yang cenderung membentuk geng masing-masing berdasarkan ras yang bermula dari maraknya perkelahian antar geng di Amerika yang suasananya juga sampai terbawa didalam ruang itu yang  terdapat beragam Geng ras yang selalu mengelompok didalam kelas, seperti ras Kamboja, Kulit Hitam, Hispanic, dan seorang Kulit Putih. Yang menjadi permasalahan ialah masing-masing geng ras selalu berselisih dan tidak dapat diakurkan.
Hari pertama Erin di dalamruang 203, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya, bahkan saat Erin mencoba untuk mendekatkan diri ke anak didiknya sesekali terjadi perselisihan antar geng didalam kelas yang membuat Erin bingung harus berbuat apa. Keberadaan Erin didalam kelas sering kali tidak dihiraukan oleh para anak didiknya, karena para anak didiknya memiliki anggapan bahwa tidak ada gunanya sekolah, karena yang menjadi prioritas utama saat ini adalah perjuangan melawan gerombolan geng lain yang menjadi musuh mereka. Hail ini dilakukan supaya mereka dapat bertahan hidup. Selain itu salah satu anak didiknya yang bernama Eva berkata bahwa Ia tidak suka dengan kehadiran Erin dikelas, karena menurutnya Erin hanya berbicara penuh nasehat seolah Erin adalah manusia paling bijak. Padahal Erin tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dalam kehidupan mereka. Eva dan beberapa anak didik yang lain juga beranggapan bahwa orang berkulit putih termasuk Erin merupakan orang yang yang banyak mengakibatkan ras lain terbunuh dan terpidana. Namun Erin tetap terus berusaha untuk memahami kondisi parapeserta didiknya.
Pada suatu hari ada salah satu anak didiknya yang bernama Tito menggambar salah satu kelompok ras yang ada dikelasnya, yang membuat seluruh isi kelas menertawakan bentuk ras yang digambar dan diolok-olok oleh Tito. Kejadian itu membuat Erin murka, dan mulai menasehati mereka dengan cara mengkaitkannya dengan pristiwa suatu sejarah, namun para anak didiknya malah bersikap tidak terima tentang apa yang dikatakan Erin, karena Erin hanyalah guru baru, yang berusaha mengajari mereka tanpa tahu apa yang telah terjadi sebelumnya pada diri mereka.
Seiring berjalannya waktu Erin terus berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada anak didiknya, tanpa kenal kata menyerah Erin terus berusaha. Erin mencoba bertanya pada guru lain dan juga pada ketua yayasan tempatnya mengajar untuk berdiskusi dalam memecahkan rasa rasis pada diri anak didiknya, namun baik dari pihak Sekolah yang rasis. Ayah dan Suami yang tadinya mendukung malah berbalik arah menjadi tidak mendukung niat mulia Erin karena Erin terlalu terobsesi kepada anak didinya dibandingkan dengan kehidupan keluarganya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti pemisahan kelas, serta perbedaan fasilitas yang kentara antara ras kulit putih dan ras di luar itu membuat Erin miris.
Erin megawali usahanya dalam mendekatkan diri kepada para anak didiknya yang        cenderung membentuk kelompok-kelompok berdasarkan ras dengan cara membuat suatu permainan, mulai dari itu para siswa yang tadinya enggan untuk mendekat ke geng lain lama-kelamaan terpakasa berdekatan dengan anggota geng lain,yang secara tidak langsung dapat merubah dan mengurangi sedikit jarak diantara mereka. Setelah itu Erin menberikan sejenis buku harian atau jurnal kepada anak didiknya untuk di isi setiap harinya. Didalam jurnal itu anak didiknya dapat menuliskan semua cerita yang dinginkan baik itu cerita pengalaman maupun keinginan dari mereka. Dari itulah Erin dapat memahami kehidupan para anak didiknya. Namun sejak Erin disibukkan dengan pendekatan kepada anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu untuk membiayai usahanya dalam menimbulkan rasa kebersamaan antar anak didiknya. Namun dari hal itu timbul masalah baru, ia diceraikan oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak mendukung pekerjaannya malah berbalik mendukung pekerjaan Erin.
Dengan membaca buku-buku harian para anak didiknya Erin mulai paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing. Lama-kelamaan akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan mereka buku bacaan. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin memberikan buku baru tentang kehidupan geng yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca semua  catatan harian yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Erin semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara kultur memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan dan sangat menakjubkan, bahkan Erin rela membiayai sendiri segala upayanya dalam mendekatkan anak didiknya, mulai dari beberapa buku bacaan, kunjungan ke museum, makan malam mewah bersama para mantan korban kekerasan antar geng di zaman dulu, dan membuat acara perdamaian melalui festival di Long Beach.
Ternyata bentuk pendekatan yang Erin lakukan berhasil menghilangkan batasan-batasan diantara para anak didiknya, namun masih tersisa sedikit konflik yang terjadi didalam kelas, salah satunya adalah kasus penembakan yang melibatkan salah satu anak didik Erin, dan yang menjadi korban adalah teman dekat dari salah satu anak didik Erin juga yang berasal dari ras Kamboja. Namun Erin tidak patah arang, dan tetap berusaha, dan terus berusaha menyatukan mereka.
Saat itu Erin menugaskan para anak didiknya untuk membaca kisah tentang Anne Frank, hal ini pun disambut antusias oleh para anak ddiknya dan juga menimbulkan rasa penasaran anak didiknya. Setelah membaca kisah tentang Anne Frank, para anak didiknya menginginkan bahwa penulis buku mengenai kisah nyata Anne Frank untuk didatangkan ke Sekolah mereka, awalnya Erin menolak karena alasan biaya dan kondisi sang penulis, namun melihat antusias para anak didiknya akhirnya Erin pun meng iya kan permintaan para anak didiknya.Usaha Erin mendatangkan Mrs. Miep Gies seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust. Ia mendatangkan Mrs. Miep Gies untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah “bencana” yang terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.
Namun usaha keras dari Erin membuahkan hasil yang membuat para siswa menjadi sadar dan menghilangkan pemikiran rasis mereka. Kini mereka mau bergabung menjadi satu dan menghilangkan tembok-tembok tak terlihat diantara mereka, kini mereka mau saling tegur sapa bahkan bercanda satu sama lainnya, dan kini mereka bagaikan sebuah keluarga di dalam kelas. Hal ini semua berkat kerja keras Erin yang sangat luar biasa menjadi seorang guru. Dengan cerita dari Mrs. Miep Gies tentang kisah Anne Frank dan usaha serta kerja keras Erin Gruwell, telah mengajarkan kepada anak-anak tentang arti kejujuran, terutama kepada Eva yang menjadi saksi tunggal kasus penembakan beberapa minggu yang lalu, dan Eva bersikap jujur saat di pengadilan yang membuat pelakunya yaitu kekasih Eva dipenjara.
Keharmonisan dan  rasa kekeluargaan di kelas 203 Wilson High School, membuat para anak didiknya merasa nyaman dan bahagia jika harus terus bersama dengan Mrs.G (sebutan anak didik Erin kepadanya) sepanjang tahun. Namun saat mereka hendak naik ketingkat tertinggi yaitu kelas 3 tetapi Erin tidak dapat mengajar mereka lagi karena dia masih guru baru yang belum memiliki izin untuk mengajar kelas 3. Hal ini yang membuat para siswa kecewa dan terus berusaha untuk tetap diajarkan olah Mrs.G. Setelah melewati beberapa proses yang rumit, akhirnya Mrs.g yaitu Erin diperbolehkan mengikuti perkembangan anak didiknya bahkan sampai tingkat perguruan tinggi, hal itu tentunya sangat membuat para siswa bahagia luar luar biasa karena diajari oleh guru seperti Mrs.G.
Dengan diperbolehkannya Mrs.G mengikuti perkembangan anak didiknya sampai tingkat perguruan tinggi, maka kebanyakan anak didiknya ikut bersekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Hasil dari semangat belajar anak anak didiknya kembali muncul. Akhirnya, banyak dari murid-murid di kelas Erin Gruwell yang menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kemudian buku harian yang mereka tulis diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul ‘The Freedom Writers Diary’. Buku yang berjudul ‘The Freedom Writers Diary’ diterbitkan pada tahun 1999. Erin Gruwell dan para penulis yang merdeka itu (freedom writers) mendirikan sebuah yayasan Freedom Writers yang didedikasikan untuk mengulang kesuksesan ruang kelas 203 di ruang kelas di seantero Negeri.

                               III.    Inovasi Di Dunia Pendidikan Dari Film

Dalam dunia pendidikan hal yang paling sering di identikan yaitu kegiatan guru mengajar didalam kelas , memberikan catatan  setelah itu memberikan tugas kepada peserta didiknya. Hal inilah yang dapat membuat peserta didik jenuh dalam belajar sampai berfikir bahwa belajar itu tidak ada gunanya. Namun dari film ini kita dapat membuat beberapa inovasi dalam dunia pendidikan seperti halnya yang dilakukan oleh Mrs.G atau juga dapat mengembangkan inovasi lainnya. Inovasi yang dilakukan oleh Mrs.G diantaranya :
a.     Bertukar tempat duduk  yang tujuannya untuk mengurangi kesenjangan antar kelompok dan dapat berbaur dengan yang lainnya.
b.    Berdialog bersama dengan hal itu perhatian peserta didik dapat terjuju pada seorang gurunya.
c.     Permainan garis yang dilakukan Mrs.G  bertujuan agar para peserta didiknya saling mengenal ,memandang satu sama lain , dan dapat mengakrabkan diri mereka satu sama lain.
d.    Menulis buku jurnal atau buku harian yang bertujuan agar peserta didik dapat lebih dekat dengan penanya dan juga agar Mrs.G dapat mengenal anak didiknya.
e.    Memberikan buku bacaan tentang geng dan kekerasan  yang menggambarkan kehidupan mereka.
f.     Study tour ke museum of tolerance . Adapun tujuan Erin yaitu untuk menyadarkan kepada peserta didiknya yang terpengaruh paham rasis bahwa apa yang terjadi diantara mereka belum sepadan dengan penderitaan yang dialami oleh orang yang hidup pada zaman kekuasaan Hitler seperti Anne Frank.
g.    Diawal semester Mrs.G  mengajak peserta didiknya untuk menceritakan pengalamannya dan melakukan perubahan pada diri mereka dan bersulang atas perubahan yang mereka lakukan.
h.    Mrs.G memberikan buku yang berjudul “The Diary of Anne Frank” setelah itu mereka di perintahkan untuk menulis surat kepada Miep Gies yang merupakan penolong Anne Frank. Lalu mereka tertarik untuk mengundang Miep Gies dengan mengumpulkan dana sendiri.
i.      Melihat video Freedom Ride agar mereka dapat saling menghargai satu sama lain.
j.      Mengumpulkan jurnal mereka untuk menjadi satu buku.

                            IV.    Kesimpulan


               Film ini dapat dijadikan rujukan kita sebagai seorang guru nantinya dalam menambah wawasan tentang dunia pendidikan yaitu kita harus berjuang keras dalam memberikan pembelajaran kepada peserta didik yang terpengaruh oleh lingkungannya .selain itu ada beberapa hal yang dapat kita ambil diantaranya:
a.     Sebagai guru kita harus mampu memahami karakteristik dari peserta didik sebelum kita memulai kegiatan belajar. Agar kita dapat menentukan metode yang tepat digunakan dalam kegiatan  pembelajaran .sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
b.    Sebagai seorang guru nantinya kita harus memiliki tekad yang kuat dan semangat yang tinggi dalam menjalani profesi sebagai guru. Tidak boleh mudah putus asa dengan masalah yang dihadapi selain itu sebagai guru kita harus pandai dalam menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kegiatan belajar.
c.     Sebagai guru kita harus mampu menarik perhatian siswa dengan cara seperti memberikan motivasi, memainkan games , dll yang dapat mencairkan suasana didalam kelas.